Waktu
Yeni sudah bekerja selama beberapa tahun, tapi masih saja merasa kekurangan waktu. Rasanya ingin mempunyai waktu 28 jam sehari, jangan 24 jam. Kurang. Kalau perlu 30 jam. Padahal rasanya dia sudah rajin sekali bekerja.
Rasanya sudah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kok masih saja tiap hari terasa dikejar-kejar waktu. Apalagi menjelang akhir minggu di mana laporan harus masuk. Apalagi mendekati akhir bulan. Laporan, meeting, membantu orang lain, penutupan sales.
Dia bangun pukul lima tiap pagi. Setelah mandi dan membereskan kamar, dia berangkat pukul enam tiga puluh. Pukul delapan kurang lima menit dia sudah tiba di kantor. Lumayan. Belum terlambat. Jam kerja mulai pukul delapan pagi.
Setelah itu dia harus mencari sarapan dulu karena tidak sempat sarapan di rumah. Biasanya dia membeli bubur ayam, mi ayam, nasi uduk atau lontong sayur. Setelah sarapan, diapun mulai memeriksa apa yang harus dikerjakan hari itu. Dan mulailah dia bekerja.
Sebenarnya jam kerja berakhir pada pukul lima sore. Tapi kenyataannya Yeni sering pulang pukul tujuh atau delapan malam. Memang tidak tiap hari, tapi cukup sering. Bahkan, kadang-kadang dia tidak sempat makan siang hingga pukul empat sore. Bukan hanya makan, diapun sering kurang minum. Apalagi bila pekerjaan sangat banyak.
Kadang-kadang Yeni bertanya dalam hati mengapa dia selalu merasa kekurangan waktu? Apa yang salah dalam pengaturan waktunya?
Ketika dia menonton film The Pursuit of Happiness, sesuatu mulai terbuka. Dalam film tersebut Will Smith memerankan seorang pria yang sedang membutuhkan pekerjaan. Dia mengikuti semacam program magang. Dari seluruh pelamar dipilih 20 orang terbaik. Mereka harus bekerja selama enam bulan tanpa gaji. Setelah itu, satu orang akan dipilih dan diterima sebagai karyawan. Tentunya yang dipilih adalah yang paling berhasil, yang terbaik.
Ke 20 orang ini bekerja mati-matian. Saling bersaing untuk menjadi yang terbaik. Mereka semua bekerja dari pagi hingga malam. Tapi Will Smith tidak bisa bekerja hingga malam karena tiap sore harus menjemput anaknya dari tempat penitipan anak. Dengan waktu yang sangat terbatas, dia harus bersaing melawan 19 orang lainnya yang tidak memiliki kendala waktu.
Hemat waktu
Yang sangat menyentuh hati Yeni adalah bagaimana Will Smith ini menghemat waktu. Dia bekerja dengan sangat cepat. Dia bahkan mengurangi minum agar tidak perlu sering buang air kecil. Dia menghitung bahwa hal tersebut bisa menghemat waktu selama sembilan menit. Betapa orang ini sangat menghargai waktu.
Kini, Yeni mencoba menganalisa cara kerjanya. Sesampainya di kantor, tiap pagi dia perlu keluar mencari sarapan. Kalau dihitung, dia perlu waktu sekitar 12 menit untuk itu. Sesampainya di kantor kembali, Yeni segera sarapan. Dia mencoba menghitungnya. Ternyata sarapan di meja kerja menghabiskan waktu selama sembilan menit. Ditambah membuang bungkus makanan, membawa piring ke dapur dan mencuci tangan yang memerlukan waktu selama delapan menit lagi. Kalau dijumlahkan, dia sudah menggunakan waktu selama 29 menit untuk sarapan. Wow!
Berarti dia baru mulai bekerja sekitar pukul setengah sembilan, bukan pukul delapan pagi. Ternyata tanpa sadar dia sudah membuang waktu selama setengah jam untuk sarapan. Yeni ingin mengubah kebiasaannya. Dia akan mencoba bangun pukul empat tiga puluh tiap pagi, agar bisa berangkat ke kantor lebih awal.
Setelah dicoba, dia bisa tiba di kantor pukul tujuh lima belas. Berarti dia bisa datang 40 menit lebih awal. Cukup untuk sarapan. Pada pukul delapan, dia sudah bisa mulai bekerja.
Yeni menjadi bersemangat. Dia mulai mengamati caranya menggunakan waktu. Apa saja yang dapat dilakukannya? Apakah dia bisa menghemat waktu? Apa yang harus diubah? Tapi dia tidak ingin seperti tokoh film tadi yang tidak pernah minum untuk menghemat waktu, karena khawatir kena penyakit batu ginjal.
Dia sendiri memang merasa kurang minum kalau sedang sibuk. Dia masih bisa menghemat waktu kalau punya gelas besar yang diisi air minum dan diletakkan di mejanya. Dengan cara demikian, dia tidak perlu harus selalu bolak-balik mengambil air minum ke dispenser di ujung ruangan.
Sekarang dia punya gelas besar sendiri, malah paling besar, sampai teman-temannya menertawakannya. Tapi Yeni tenang-tenang saja. Biarkan saja mereka tertawa, yang penting waktunya bisa lebih bermanfaat.
Biasanya setelah sarapan, dia membereskan meja kerjanya yang kemarin masih belum selesai dibereskan. Ternyata perlu waktu sekitar enam menit untuk menyimpan semua dokumen pada tempatnya. Karena itu Yeni memutuskan untuk selalu membereskan meja kerjanya dan semua dokumen sebelum pulang ke rumah di sore hari, agar keesokan harinya dia bisa langsung mulai bekerja.
Yeni terus mengamati apa saja yang bisa dilakukan secara lebih efisien. Tidak membuang-buang waktu lagi. Baru beberapa hari dicoba, Yeni merasa sangat bersemangat. Dia tidak lagi kalang kabut karena dikejar waktu. Waktu diciptakan untuk kita atur. Jangan biarkan waktu mengatur kita. Hargai setiap detik kehidupan kita. Be efficient! Use your time wisely
Sumber: Waktu oleh Lisa Nuryanti, Motivator dan Managing Director
Expands Consulting & Training Center
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
terimakasih sudah memberikan artikel yang sangat berguna bagi kelancaran tugas saya....
Posting Komentar