Rabu, 26 Maret 2008

Data Pelatihan (Training in Picture)



Berikut beberapa gambar pelatihan yang pernah kami lakukan ;

Pelatihan yang pernah kami lakukan

Berikut beberapa pelatihan yang pernah kami lakukan :
1. Motivasi
2. Product Knowledge
3. Salesmanship

Beberapa instansi/kantor yang pernah bekerjasama dengan kami,
1. Carrefour Indonesia
2. Alfa Retaillindo
3. Giant
4. Columbindo Indonesia (Columbia)
5. Electronic Solution
6. Electronic City
7. Best Denki Indonesia
8. Pemda DKI Jakarta
9. BPPK Jakarta Barat
10. SMK 56 Pluit Jakarta Utara

Pelatihan didalam

Pelatihan didalam yang dikami lakukan adalah
1. Rutin : SPG/SPM Carrefour, setiap hari Selasa
SPG/SPM Giant, Alfa & Electronic Solution, setiap hari Rabu
SPG/SPM Electronic City, setiap hari Senin
Dengan materi Product Knowledge, Salesmanship, Motivasi, Tip and Trick dll.

2. Tdk Rutin : Dealer Sanken Seluruh Indonesia dan beberapa media baik cetak maupun elektronik.

Pelatihan diluar

Kami berpengalaman melakukan pelatihan diluar (outbound) dengan materi motivasi dan team building, diantaranya :
1. Team After Sales Service Sanken Jakarta
2. Team SPG/M Sanken Carrefour, Giant, Electronic Solution, Alfa Sejabodetabek

Senin, 17 Maret 2008

Artikel Motivasi

Modal Kita hanya 86.400 Detik

Nadia termanggu di ujung kolam. Sudah dua tahun ia selalu menjadi juara dalam kompetisi renang antar perusahaan. Kali ini ia hanya menduduki peringkat enam. Nadia tertinggal dua detik dengan juara pertama dan tertinggal kurang dari dua detik dengan peringkat 2, 3, 4 dan 5. Karena tertinggal dua detik, Nadia gagal mempertahankan mahkota juaranya. Hadiah uang tunai senilai Rp 10 jutapun lepas dari tangannya. Karena tertinggal dua detik, Nadia meneteskan air mata kesedihan di pinggir kolam seusai perlombaan.

Dua detik amatlah berarti bagi para juara. Jangankan terlambat dua detik, terlambat satu detik atau bahkan kurang dari itu akan membuat mahkota juara berpindah tangan. Para pembalap formula satu, pelari cepat, pendayung, dan para olah ragawan akan berlatih keras hanya sekedar untuk mempertahankan waktu tempuh yang pernah dicapai. Mereka tak ingin kecepatannya berkurang walau hanya satu detik.

Hidup adalah perlombaan. Bila ingin menjadi juara, kita tak boleh tertinggal walau hanya satu detik. Sang Pemilik Jagad Raya memberikan hal yang berbeda untuk harta. Ada yang berlimpah harta, ada yang miskin papa, ada pula yang hidup pas-pasan. Sang Penciptapun memberikan hal yang berbeda untuk wajah. Ada yang tampan, jelita, cantik, ayu, ada pula yang berparas biasa, bahkan ada yang berparas di bawah rata-rata.

Namun Sang Pencipta memberikan hal yang sama untuk waktu. Sehari semalam kita diberi modal waktu 24 jam. Tidak peduli apakah kita presiden, pengusaha, kyai, guru, petani, pengangguran, mahasiswa, pekerja sosial dan profesi lainnya semua diberi modal yang sama 24 jam atau 86.400 detik setiap hari. 86.400 detik adalah modal yang diberikan oleh Sang Maha Pengasih kepada kita setiap harinya. Bila kita hanya mampu menghasilkan sesuatu yang senilai 86.400 detik per hari maka kita balik modal. Bila kita tidak mampu menghasilkan sesuatu yang senilai 86.400 detik per hari maka sebenarnya kita merugi. Agar kita memperoleh keuntungan, maka dalam satu hari kita harus menghasilkan sesuatu yang nilainya lebih dari 86.400 detik.

Coba anda renungkan! Selama pejalanan hidup anda hingga saat ini, berapa detik waktu yang telah anda buang atau anda sia-siakan. Berapa detik yang dihabiskan untuk ngrumpi?, menggosip?, nonton acara TV yang tak berkualitas?. Berapa detik pula telah anda gunakan untuk bermaksiat kepada Sang Maha Pemurah yang telah memberikan modal 86.400 detik setiap hari kepada anda? Selain itu, saya yakin anda jarang menghitung berapa detik waktu yang telah anda habiskan untuk tidur? Berapa detik waktu yang telah anda habiskan untuk perjalanan dari rumah menuju kantor dan sebaliknya? Sungguh, detik-detik yang telah anda habiskan untuk sesuatu yang tak bermanfaat akan mengurangi modal yang telah Sang Maha Kuasa berikan kepada anda.
Agar modal 86.400 detik yang telah kita terima terus berkembang dan tidak merugi, investasikan setiap detik anda untuk sesuatu yang sangat bermanfaat. Tebarkan energi positif, kebaikan dan amal soleh kepada orang-orang disekitar kita. Dimulai sekedar senyum dan wajah cerah hingga meringankan beban orang lain, berbagi ilmu kepada yang membutuhkan, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menantang dan berbagi harta kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung. Semua kegiatan yang berkontribusi terhadap peningkatan harkat dan martabat masyarakat akan menjadikan modal 86.400 detik anda terus berkembang dan menghasilkan.

Ketika Nadia terlambat dua detik, ia kehilangan mahkota juaranya. Ia kehilangan hadiah uang tunai Rp 10 juta. Ia meneteskan air mata kesedihan di ujung kolam. Bagaimana dengan anda yang telah mengabaikan ribuan atau jutaan detik? Berapa kerugian yang telah anda derita? Tutup kerugian masa lalu anda. Jadikan setiap detik yang anda punya agar mampu memberikan manfaat buat anda, keluarga, saudara, masyarakat dan bangsa.

Kamis, 13 Maret 2008

Artikel Produk

Mesin Cuci

Dalam proses pencucian disamping kualitas mesin cuci dan deterjent, air juga merupakan hal yang sangat menentukan hasil cucian apakah bersih ataukah malah jadi kotor. Berikut ini artikel yg mengulas tentang hal-hal yang menyebabkan air menjadi keruh.

Warna :

Disebabkan zat-zat organik, bahan-bahan an-organik seperti bahan-bahan mineral dan logam yang terkandung dalam air.


Organik :
Bersumber dari zat-zat organik, humus dalam tanah. Organik yang tetap, menyebakan warna air kekuningan sampai coklat.


Besi/Karat :
Bersumber dari kandungan Besi (Fe) dalam tanah, sistem plumbing besi. Ion besi menyebabkan air berwarna kuning dan baju putih berubah menjadi kekuningan setelah dicuci.


Mangan :
Berasal dari kandungan Mangan (Mn) dalam tanah, khususnya daerah gunung berapi dan rawa. Ion mangan menyebabkan air berwarna kecoklatan sampai hitam. Dan akibat nyata pada porcelain kamar mandi terjadi bercak-bercak kecoklatan.

Artikel Salesmanship

Waktu

Yeni sudah bekerja selama beberapa tahun, tapi masih saja merasa kekurangan waktu. Rasanya ingin mempunyai waktu 28 jam sehari, jangan 24 jam. Kurang. Kalau perlu 30 jam. Padahal rasanya dia sudah rajin sekali bekerja.

Rasanya sudah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kok masih saja tiap hari terasa dikejar-kejar waktu. Apalagi menjelang akhir minggu di mana laporan harus masuk. Apalagi mendekati akhir bulan. Laporan, meeting, membantu orang lain, penutupan sales.

Dia bangun pukul lima tiap pagi. Setelah mandi dan membereskan kamar, dia berangkat pukul enam tiga puluh. Pukul delapan kurang lima menit dia sudah tiba di kantor. Lumayan. Belum terlambat. Jam kerja mulai pukul delapan pagi.

Setelah itu dia harus mencari sarapan dulu karena tidak sempat sarapan di rumah. Biasanya dia membeli bubur ayam, mi ayam, nasi uduk atau lontong sayur. Setelah sarapan, diapun mulai memeriksa apa yang harus dikerjakan hari itu. Dan mulailah dia bekerja.

Sebenarnya jam kerja berakhir pada pukul lima sore. Tapi kenyataannya Yeni sering pulang pukul tujuh atau delapan malam. Memang tidak tiap hari, tapi cukup sering. Bahkan, kadang-kadang dia tidak sempat makan siang hingga pukul empat sore. Bukan hanya makan, diapun sering kurang minum. Apalagi bila pekerjaan sangat banyak.

Kadang-kadang Yeni bertanya dalam hati mengapa dia selalu merasa kekurangan waktu? Apa yang salah dalam pengaturan waktunya?

Ketika dia menonton film The Pursuit of Happiness, sesuatu mulai terbuka. Dalam film tersebut Will Smith memerankan seorang pria yang sedang membutuhkan pekerjaan. Dia mengikuti semacam program magang. Dari seluruh pelamar dipilih 20 orang terbaik. Mereka harus bekerja selama enam bulan tanpa gaji. Setelah itu, satu orang akan dipilih dan diterima sebagai karyawan. Tentunya yang dipilih adalah yang paling berhasil, yang terbaik.

Ke 20 orang ini bekerja mati-matian. Saling bersaing untuk menjadi yang terbaik. Mereka semua bekerja dari pagi hingga malam. Tapi Will Smith tidak bisa bekerja hingga malam karena tiap sore harus menjemput anaknya dari tempat penitipan anak. Dengan waktu yang sangat terbatas, dia harus bersaing melawan 19 orang lainnya yang tidak memiliki kendala waktu.

Hemat waktu

Yang sangat menyentuh hati Yeni adalah bagaimana Will Smith ini menghemat waktu. Dia bekerja dengan sangat cepat. Dia bahkan mengurangi minum agar tidak perlu sering buang air kecil. Dia menghitung bahwa hal tersebut bisa menghemat waktu selama sembilan menit. Betapa orang ini sangat menghargai waktu.

Kini, Yeni mencoba menganalisa cara kerjanya. Sesampainya di kantor, tiap pagi dia perlu keluar mencari sarapan. Kalau dihitung, dia perlu waktu sekitar 12 menit untuk itu. Sesampainya di kantor kembali, Yeni segera sarapan. Dia mencoba menghitungnya. Ternyata sarapan di meja kerja menghabiskan waktu selama sembilan menit. Ditambah membuang bungkus makanan, membawa piring ke dapur dan mencuci tangan yang memerlukan waktu selama delapan menit lagi. Kalau dijumlahkan, dia sudah menggunakan waktu selama 29 menit untuk sarapan. Wow!

Berarti dia baru mulai bekerja sekitar pukul setengah sembilan, bukan pukul delapan pagi. Ternyata tanpa sadar dia sudah membuang waktu selama setengah jam untuk sarapan. Yeni ingin mengubah kebiasaannya. Dia akan mencoba bangun pukul empat tiga puluh tiap pagi, agar bisa berangkat ke kantor lebih awal.

Setelah dicoba, dia bisa tiba di kantor pukul tujuh lima belas. Berarti dia bisa datang 40 menit lebih awal. Cukup untuk sarapan. Pada pukul delapan, dia sudah bisa mulai bekerja.

Yeni menjadi bersemangat. Dia mulai mengamati caranya menggunakan waktu. Apa saja yang dapat dilakukannya? Apakah dia bisa menghemat waktu? Apa yang harus diubah? Tapi dia tidak ingin seperti tokoh film tadi yang tidak pernah minum untuk menghemat waktu, karena khawatir kena penyakit batu ginjal.

Dia sendiri memang merasa kurang minum kalau sedang sibuk. Dia masih bisa menghemat waktu kalau punya gelas besar yang diisi air minum dan diletakkan di mejanya. Dengan cara demikian, dia tidak perlu harus selalu bolak-balik mengambil air minum ke dispenser di ujung ruangan.

Sekarang dia punya gelas besar sendiri, malah paling besar, sampai teman-temannya menertawakannya. Tapi Yeni tenang-tenang saja. Biarkan saja mereka tertawa, yang penting waktunya bisa lebih bermanfaat.

Biasanya setelah sarapan, dia membereskan meja kerjanya yang kemarin masih belum selesai dibereskan. Ternyata perlu waktu sekitar enam menit untuk menyimpan semua dokumen pada tempatnya. Karena itu Yeni memutuskan untuk selalu membereskan meja kerjanya dan semua dokumen sebelum pulang ke rumah di sore hari, agar keesokan harinya dia bisa langsung mulai bekerja.

Yeni terus mengamati apa saja yang bisa dilakukan secara lebih efisien. Tidak membuang-buang waktu lagi. Baru beberapa hari dicoba, Yeni merasa sangat bersemangat. Dia tidak lagi kalang kabut karena dikejar waktu. Waktu diciptakan untuk kita atur. Jangan biarkan waktu mengatur kita. Hargai setiap detik kehidupan kita. Be efficient! Use your time wisely

Sumber: Waktu oleh Lisa Nuryanti, Motivator dan Managing Director
Expands Consulting & Training Center